Selamat Hari Guru! Hal Ini Menjadi Tantangan Bagi Guru Di Era Digital

Kemajuan teknologi yang pesat juga telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Sekarang ada lebih banyak cara untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain

Perubahan ini juga mempengaruhi dunia pendidikan. Ini telah berkembang dari metode pengajaran ke teknik yang menyertainya. Selanjutnya, apa saja tantangan yang dihadapi guru di era digital?

siswa generasi Z

Tantangan pertama tentunya adalah para siswa yang merupakan Generasi Z yang lahir antara tahun 1995 hingga 2015. Semua orang di generasi itu lahir pada saat teknologi berkembang pesat.

Mereka tumbuh di era digital di mana Internet dan perangkat seluler mulai merasuk dan perlahan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Jadi, Gen Z tidak diragukan lagi yang paling fasih dan penting untuk berurusan dengan teknologi. Anda memainkan peran penting tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga dalam kemajuan teknologi di masa depan.

Kehadiran situs pencarian seperti Google dan Bing memudahkan Gen Z untuk menemukan informasi yang relevan dengan minat mereka. Dengan konten interaktif yang disampaikan di dunia maya, siswa saat ini dengan cepat menjadi bosan dengan proses belajar mengajar yang tradisional.

BACA JUGA: 7 Cara Mendorong Anak Sukses di Sekolah

Nita, dosen di sekolah bank Indonesia dan guru di BTA 8, mengatakan telah terjadi perubahan yang sangat penting dalam sistem pendidikan, 

Kini semua materi telah ditransfer dalam format digital yang bisa dibuka langsung di laptop atau smartphone siswa.

Bahkan dosen tidak bisa lagi mempraktekkan pola pembelajaran pasif, yang menempatkan mahasiswa sebagai pendengar di dalam kelas ”kuliah”. Guru perlu lebih kreatif dalam mengemas mata pelajaran. Mampu menyajikan presentasi interaktif yang meliputi video disertai animasi untuk menarik perhatian siswa.

Pendidikan kepribadian harus diprioritaskan

Kemudahan akses informasi tidak selalu berdampak positif bagi siswa. Terlebih lagi, di era misinformasi dan kebohongan yang meluas ini, sulit untuk mencegah penyebarannya.

Selain itu, jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter memberikan kesempatan kepada siswa untuk terhubung dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan lokasi. Namun, situs web ini juga merupakan rumah bagi penyebaran penipuan dan komentar negatif.

Siswa membutuhkan instruksi yang lebih terfokus karena mereka lebih terpapar konten negatif. Karakter setiap anak, serta pembatasan akses, harus dibentuk di rumah dan di sekolah sejak dini. Kami ingin mereka tahu cara merespons konten negatif secara positif.

Selain menjadi internet savvy, pendidikan karakter akan mempersiapkan semua anak untuk menghadapi tantangan masa depan dimana mereka menghadapi tantangan dalam pekerjaan dan kehidupan sosial.

Baca lebih lanjut: 3 Mesin Pencari Handal untuk Menghindari Penipuan

Peran guru yang tak tergantikan

Salah satu tantangan yang membayangi di era digital ini adalah kemungkinan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) akan mengambil alih profesi manusia. Padahal, dalam dunia pendidikan saat ini, proses belajar mengajar tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah.

Banyak aplikasi pendidikan telah muncul untuk membantu siswa mendapatkan pengetahuan dan wawasan langsung dari smartphone atau tablet mereka. Misalnya, Ruangguru yang menghubungkan siswa secara online dengan guru berkualitas, dan Zenius yang menyediakan video pembelajaran.

Namun, peran sejati seorang guru tidak tergantikan oleh keterampilan apa pun. Guru menawarkan kepada siswa apa yang tidak dapat ditawarkan oleh aplikasi atau perangkat lunak pendidikan kepada siswa mereka, termasuk interaksi tatap muka.

Baca Juga: Nintendo Labos Disesuaikan dengan Program Teknologi Sekolah

Proses belajar mengajar tatap muka memudahkan guru dan siswa membangun hubungan interpersonal yang baik. Proses belajar mengajar bisa lebih interaktif dan interaktif. Namun, guru tidak boleh mengabaikan pentingnya menggunakan teknologi.

Aplikasi perpesanan seperti WhatsApp sebaiknya digunakan sebagai sarana komunikasi di luar jam pelajaran. Siswa yang kesulitan menyelesaikan tugas atau memahami pelajaran tertentu dapat berbicara langsung dengan gurunya.

Guru juga harus beradaptasi

Setiap tahap pengembangan keterampilan akan menghadirkan tantangan baru bagi guru. Pendidik kini ditantang untuk mengikuti perkembangan siswa yang melek teknologi di Generasi Z. Kamu juga perlu mempersiapkan diri untuk tantangan yang lebih besar dari Generasi Alpha (lahir tahun 2015 ke atas).

Sementara Generasi Z melihat teknologi sebagai alat untuk mencari hiburan dan informasi, Generasi Alpha menggunakan teknologi untuk semua kebutuhan mereka. Bahkan, banyak sekolah yang memperkenalkan kelas-kelas yang erat kaitannya dengan teknologi, seperti coding dan robotika, sejak usia dini.

Kemajuan teknologi menuntut semua guru untuk beradaptasi. Oleh karena itu, mereka terus meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan mereka dan mengadopsi perangkat teknologi dan aplikasi seluler dalam proses belajar mengajar mereka.

You May Also Like

About the Author: keyhar

Leave a Reply

Your email address will not be published.